• 1
  • 1
  • 1

INFO WISATA

Saronen 2
[ 1937 pembaca ]

Istilah ca’mong. Barang dan mettet untuk ketiga kennong yang disebut juga sebagai bonang ( perbedaan utama diantara kelompok gong paling kecil, kennong dan bonanng adalah selain ukurannya , gong selalu digantung, sedangkan kennong dan bonnang biasanya ditaruh dilantai atau diatas landasan. Biasanya istilah bonang digunakan untuk menyebut seperangkat gong yang ditaruh bersama – sama secara horizontal diatas landasan yang sma ). Sunarwi, Seorang pemain dan pengajar musik terkemuka dari Sumenep, menyebutkan istilah lain : masing – masing kennong, ca’mong dan kodhean untuk ketiga kenong dari yang tebesar sampai terkecil ; ketapong untuk gendhang kene’ dan moksor untuk kerca. Terakhir , mungkin sekali ketiga kennong diatas itu sama dengan kennong tello’ yang ditemukan di Jawa Timur.

Bahan pembuat alat amat beraneka pula. Gong besar kadang – kadang terbuat dari besi untuk badannya dan kuningan untuk pentolnya; gendhang raja terbuat dari kulit rusa diujung terkecil dan kulit sapi yang dicat hitam ( supaya lebih bertahan ) di ujung terbesar. Sdangkan badannya terbuat dari kayu nangka; gendhang kene’ terbuat dari kulitkambing pada setiap ujungnya dengan badan dari kayu nagka. Kerangka tempat manggantung gong terbuat dari bambu bercat saja, umumnya hijau; tiang peyangganya kadang – kadang berhiaskan ukiran kayu dengan dekorasi daun – daunan bersilangan dan bunga – bungaan berwarna – warni.

Para pemain perlu berjalan dengan mudah karena mereka mengikuti iring – iringan pasangan sapi atau sapi betina. Juga kuda yang mengenai upacara perkawinan tertentu atau kunjungan ke kuburan keramat. Dan arak – arakan lainnya. Bila menyebrangi lapangan karapan, mereka berjalan dengan langkah pendek sambil berlenggak – lenggok mengikuti irama musik mereka. Kerangka gantungan gong dan kennong raja diangkut oleh dua pemain. Yang mengangkut sambil menabuhnya. Adakalanya kedua kennong kene’ juga diangkut pada kerangka serupa, bersama dengan gong besar , bila tidak dipegang dengan satu tangan dan dipukul dengan yang lain. Atau lagi yang satu tergantung pada leher dan yang lain pada pundak pemain. Kerca dipukul dengan membenturkan keping yang satu dengan yang lain, gendhang diselempangkan sedangkan saronen dipegang dengan mudah oleh kedua tangan pemainnya. Bila duduk bisa saja para pemain meletakkan / menempatkan alat mereka dengan cara yang berbeda; kennongnya, sering ditaruh dengan sebagian ditanah , sedangkan satu tangan memegang bagian bawahnya cukup jauh dari tanah supaya gemanya tetap baik, dan bagian tangan yang bebas digunakan untuk memukulnya dengan tongkat kayu.

Kadang – kadang atas prakarsa bersama , para pemain mengenakan seragam. Pada upacara ritual yang disebut di atas semua berudeng Madura ( odheng ) dan bersarung; ada juga yang mengenakan celana dan baju hitam longgar khas Madura. Pada kerapan sapi, kaum muda pada umumnya berpakain lebih modern, dan bahkan kadang – kadang menonjol sekali ( misalnya berbaju satin merah jambu dan hijau ) kaca mata hitam dan topi lakan dan sebagainya.

Untuk menyaksikan penggunaan orkes saronen untuk pementasan teater, yaitu di desa Dasok. Orkes iyu mengiringi rombongan masitek dan terdiri dari saronen sendiri, dua gendhang ( besar dan kecil )dua tongtong, dun kennong , sebuah ghung raja dan dua ghung kene’, sepasangsimbal besi kecil yang disebut cekecek atau rencek. Jadi, seluruhnya ada sembilan pemain.Orkes itu berpentas juga pada kesempatan karapan sapi dengan nama Barusmi. Sebuah orkes saronen yang mengiringi sebuah arak – arakan topeng.

Seperti halnya orkes okol, terdapat orkes saronen yang mengisi repertoarnya dengan gendhing gamelan yang tengah populer, yang diadaptasikan kepada perangkat yang kecil itu. Diantara komposisi yang populer ditemukan misalnya ; celleng Mokum , senom , puspo , ces, ca’mong.
Beberapa komposisi dibuat khusus sebagai pengidung bagi kuda, sapi betina , atau sapi jantan : misalnya Girowan dan sarka’ salpe. Pada acara malam ahad, yang telah disebutkan diatas, para pemain membawakan antara lain : Sarka’ , Padhang Wulan ,( disebut juga sinar bulan ), Ceruding ( atau arom Manis ) dan ijo – ijo.

Sebagai musik yang terutama berirama mars, jenis biramanya selalu 4/4 . semua komposisi pesta memiliki struktur yang serupa. Saronen itulah yang selalu membuka komposisi dengan permainan solo. Biasanya dia membuka komposisi dengan kalimat musikal bebas nada dan ritmenya, kemudian memulai garis melodis yang khas pada komposisi yang akan dimainkan. Ketika itulah , pemain lain menyambung dengan meneruskan tempo yang diberikan oleh saronen.Gong besar dipukul pada ketukan pertama dari setiap birama: kempul dan gong besar dipukul secara silih berganti pada ketukan ketiga atau pada ketukan kedua dan keempat tergantung pada temponya. Kennong , raja [KEMBALI]

AGENDA


LAKIP 2015
IKU Kab. Sumenep 2016
LKPJ Bupati
  Fasilitas Umum  
  Hotel  
  Usaha Mandiri  
  • SERVICE
    SERVIS RAMAYANA
    Jl. Teuku Umar No 21
    Telp :
  • SERVICE
    YAN ELEKTRONIK
    Jl. Diponegoro
    Telp :
  • SERVICE
    HASAN ELECTRONIC
    Jl. Blimbing No 4
    Telp :
  • SERVICE
    LUKMAN ELEKTRONIK
    JL. Dr. Wahidin
    Telp :
  • SERVICE
    EDY JUNAIDI
    JL. KH WAHID HASYIM GG 10 SUMENEP
    Telp :
[ Index Fasilitas Umum + ]

News Room
News Room adalah bidang yang menangani pengolahan berita secara uptodate, sehingga mampu menyampaikan berita secara cepat dan tepat bagi masyarakat.
Kontak :
Telp :
Email :
Tabloid Info
Tabloid Info adalah sebuah media bidang yang menangani berita melalui media cetak, yang bergerak khusus pada bidang pemerintahan.
Kontak :
Telp :
Email :

STATISTIK PENGUNJUNG


Pengunjung hari ini : 859
Total pengunjung : 816959
Hits hari ini : 27416
Total Hits : 9202481
Pengunjung Online : 12


SMS PENGADUAN : [6285815767XXX] (: Pada tgl 12 desember saya melakukan perekaman e ktp tapi sampai saat ini e ktp saya belum selesai dengan: NIK : 3529124902930004 NAMA : RAHMATUN NISA KAB : SUMENEP AMBUNTEN TENGAH) [dukcapil ] ()[6281233365XXX] (percobaan) [diskominfo] ()